Cinta adalah kekuatan yg mampu mengubah duri jadi mawar mengubah cuka jadi anggur mengubah sedih jadi riang mengubah amarah jadi ramah mengubah musibah jadi muhibah, Belajar dari masa lalu untuk menjadi arif dalam kehidupan mendatang, Dengan memberi kamu menerima, Dengan memaafkan kamu dimaafkan, Dengan mati kamu hidup abadi, Haruskah kita mengingkari masa lalu jika yang lalu dapat memberikan inspirasi bagi masa depan

Kamis, 21 Januari 2010

Makna dibalik Cerita Sejarah Rakyat Syeh Belabelu

Pada akhir masa Pemerintahan Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit, berkembanglah pengaruh Islam yang begitu dahsat hingga masuk ke wilayah keluarga kerajaan. Dari lingkungan istana sendiri ada kelompok yang pro dan kontra terhadap perkembangan pengaruh Islam. Kelompok kontra inilah yang kemudian mencoba keluar dari istana dengan pengikut-pengikutnya pergi kedaerah-daerah pinggiran yang dianggap aman serta jauh dari jangkauan terhadap pengaruh Islam.

Tersebutlah dalam cerita rakyat tokoh dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri untuk mempertahankan kepercayaannya tersebut. Dia adalah Raden Joko Bandem. Raden Joko Bandem dengan para pengikutnya meninggalkan Istana menyusuri pantai selatan sehingga sampai di bukit pemancingan di dekat Parang Tritis. Karena menganggap bahwa daerah tersebut aman dan tidak terjangkau oleh penyebaran Islam, Raden Joko Bandem kemudian memerintahkan kepada pengikutnya untuk mendirikan Padepokan .

Dalam perkembangannya ternyata R. Patah selaku penguasa Demak juga mengutus ulamanya untuk melakukan syiar Islam di daerah Pantai Selatan. Ulama tersebut yaitu Maulana Magribi yang kemudian mendirikan Pondok sebagai basis syiar Islam di bukit Sentana yang berdekatan dengan bukit pemancingan. Akhirnya dengan kearifan dan pendekatan kultural , banyak masyarakat sekitar Parangtritis yang memeluk Islam tidak terkecuali pengikut-pengikut Raden Joko Bandem. Raden Joko Bandem pun dalam perkembangannya tertarik dan kemudian masuk Islam dengan seluruh pengikut-pengikutnya. Dengan masuk Islamnya Joko Bandem namanya pun kemudian diganti menjadi Syeh Belabelu.

Sejak masih muda, Raden Jaka Bandem yang sekarang telah berganti nama Syekh Belabelu, memiliki kegemaran atau kebiasaan tirakat atau bertapa. Bahkan setelah menjadi Syekh sekalipun, kebiasaannya bertapa itu masih tetap dipelihara dan dilanjutkan.

Cara Syekh Belabelu bertapa bernyata lain dari yang lain. Orang lain biasa melaksanakan puasa dengan jalan menjauhkan diri dari kenikmatan, setidak-tidaknya mengurangi segala macam kesenangan duniawi, misalnya makan dan tidur. Sedangkan Syekh Belabelu dalam pelaksanaan tapanya seakan-akan hanya mementingkan kepuasan dirinya pada soal makan saja. Di sepanjang hari kerjanya tidak ada lain kecuali hanya menanak nasi dan makan. Kalau nasi sudah masak dia makan sampai nasi itu habis dan setelah habis lalu menanak nasi lagi. Begitulah seterusnya. Versi lain menceritakan, Syekh Belabelu mengupas butir-butir padi satu persatu. Setelah terkumpul beras secukupnya, mulailah dia menanak beras itu menjadi nasi. Setelah nasi masak lalu ditebarkannyalah ke pasir. Kesibukan selanjutnya ialah memunguti butir-butir nasi itu satu persatu. Dibersihkannya pasir yang melekat pada butir-butir nasi itu, lalu mulailah dia memakannya. Dengan demikian maka tak pernah dia sempat beristirahat dan tidur.

Pada suatu ketika Syekh Maulana Mahgribi berkata kepada Syekh Belabelu, “Mengapa anda melaksanakan tapa dengan cara yang tidak lazim dilakukan orang?”

“Saya kira, dengan cara semacam inipun saya akan berhasil mencapai tujuan. Biarlah orang lain menjalankan dengan cara lain, sebaliknya biarkanlah saya menempuh dengan cara saya sendiri”, begitu jawab Syekh Belabelu. “Kalau anda masih menyangsikannya, marilah kita uji dan kita buktikan hasilnya. Anda bertapa dengan cara anda, dan saya dengan cara saya sendiri. Setelah kita laksanakan dalam waktu satu bulan, coba kita uji, mana yang lebih berhasil.”

Setelah itu, mulailah mereka berdua menjalankan tapa atau tirakat dengan cara mereka masing-masing. Setelah selang satu bulan, mulailah mereka akan mengetahui atau menguji, tapa siapakah yang lebih berhasil. Setelah itu mereka akan mengadakan perlombaan.

Perlombaan itu ialah mengadu kecepatan dalam menempuh jarak tertentu. Adapun jarak yang ditentukan harus ditempuh ialah dari pantai Parangtritis sampai ke Mekkah untuk sholat Jumat.

Pada hari yang telah ditentukan, Syekh Maulana Mahgribi pagi-pagi datang ke pondok Syekh Belabelu. Sesampai di sana, ternyata Syekh Belabelu masih sibuk menanak nasi, sama sekali tidak nampak adanya persiapan akan bepergian jauh.

“Bukankah telah ditentukan bahwa pagi ini kita akan ke Mekkah untuk sholat Jumat di sana?” kata Syekh Maulana Mahgribi.

“Ya, saya tidak melupakan ketentuan itu”, kata Syekh Belabelu. “Tetapi saya belum dapat berangkat sebelum makan. Silahkan anda berangkat dahulu. Selesai makan nanti saya segera menyusul.”

Kemudian berangkatlah Syekh Maulana Mahgribi menuju Mekkah. Sedang Syekh Belabelu dengan santainya makan nasi yang ditanaknya. Sama sekali tidak menampakkan raut muka cemas atau khawatir akan kalah dalam pertandingan melawan Syekh Maulana Mahgribi.

Sesampai di Mekkah, Syekh Maulana Mahgribi melihat telah banyak orang yang datang untuk sholat Jumat. Begitu masuk ke ruang masjid, Syekh Maulana menoleh ke kanan dan kiri, untuk mencari tempat duduk yang nyaman.

Tiba-tiba Syekh Maulana Mahgribi menjadi terkejut dan heran, setelah dilihatnya Syekh Belabelu telah duduk bersila di dalam ruangan masjid itu, di tempat yang tidak jauh dari tempat dia berdiri. Dengan tenangnya Syekh Belabelu tersenyum, melambaikan tangan dan memberi isyarat agar Syekh Maulana Mahgribi duduk di sampingnya. Syekh Maulana Mahgribi akhirnya duduk dan mengatakan bahwa dia mengakui keunggulan Syekh Belabelu.

Cerita tersebut dapat dimaknai sebagai berikut 1) Ibadah adalah sebuah komunikasi eksklusif antara makhluk dan penciptanya, kurang sewajarnya jika manusia harus mengatur bahkan mungkin memaksa orang untuk melakukan tata cara yang sama. 2) Toleransi adalah kunci penghormatan kepada sesama makhluk Tuhan dalam menjalankan ibadah, 3) Allah / Tuhan Yang maha Esa akan memberikan tempat yang sebaik-baiknya kepada semua umatnya jika dia beribadah secara ikhlas tanpa ada unsur ria ataupun ingin dinilai orang lain . Marilah kita belajar ikhlas dalam hidup ini agar kebahagian sejati yang menjadi keinginan seluruh manusia dapat kita raih pada saat nanti. Makna cerita rakyat tersebut mungkin dapat disandingkan dengan cerita Bubuksyah dan Gagang Aking dalam relif Candi Penataran

(Diambil dari berbagai sumber cerita rakyat nusantara)

3 komentar:

  1. waw halaman yang bagus dan artikel yang menarik . Saya senang bisa menemukan artikel ini , karena artikelnya sangat membantu dan bermanfaat untuk saya . ditunggu postingan berikutnya yaaa ...terimakasih

    BalasHapus
  2. artikel menarik nih
    http://rindra.blog.dinus.ac.id/2016/09/01/alat-tanam-benih-jagung-dengan-tuas-pengungkit-dan-mekanik-pembuat-lubang/

    BalasHapus
  3. artikel enarik nih
    http://rindra.blog.dinus.ac.id/2016/09/01/alat-tanam-benih-jagung-dengan-tuas-pengungkit-dan-mekanik-pembuat-lubang/

    BalasHapus